KasirAI — pembaca nota & pembukuan otomatis untuk UMKM
Tim KasirAI · Institusi Demo
Funding ask
Rp180 jt
Alat Ukur Panjang, Tinggi, dan Berat Balita Otomatis dengan Deteksi Dini Risiko Stunting untuk Posyandu
Funding ask
Rp2,4 M
Rp2.400.000.000
NPV
Rp600 jt
@ 12%
IRR
18%
5-year projection
Payback
Year 4
cumulative cash
Team is open to
Tim PosyanduScan
Unit Riset & Inovasi · Institusi Demo
Published 1 Okt 2026
Pengukuran panjang/tinggi badan balita di posyandu umumnya masih manual: butuh dua petugas, rata-rata 4 menit per anak, dan hasilnya sering berbeda antar-kader sampai sekitar 1 cm — padahal selisih 1 cm bisa menggeser status anak dari normal menjadi pendek. Hasil dicatat di kertas lalu disalin ke laporan gizi, sehingga anak yang berisiko stunting sering baru terlihat berbulan-bulan kemudian. Prevalensi stunting nasional masih sekitar 21,5% (SSGI 2023), Perpres No. 72 Tahun 2021 mewajibkan percepatan penurunannya, dan Permenkes No. 2 Tahun 2020 mensyaratkan status gizi dihitung dengan z-score — hitungan yang sulit dilakukan kader di tempat. Alat ukur otomatis yang ada diimpor dengan harga Rp18–35 juta per set, jauh di luar anggaran posyandu.
Satu alat untuk panjang/tinggi dan berat: sensor jarak laser dan kamera memeriksa posisi anak, pelat timbang membaca berat, lalu aplikasi menghitung z-score sesuai Permenkes No. 2 Tahun 2020 dan menandai risiko stunting dengan kartu hijau/kuning/merah. Teruji pada 120 balita: selisih panjang/tinggi rata-rata 0,21 cm dan berat 18 g terhadap alat standar; satu petugas, 1 menit 35 detik per anak. Bekerja tanpa sinyal dan datanya otomatis sampai ke bidan desa dan puskesmas. Harga Rp8,9 juta — kurang dari separuh alat impor sekelas.
Dinas kesehatan kabupaten/kota (lewat e-katalog LKPP dan pengadaan langsung), yayasan dan program CSR kesehatan anak, serta distributor alat kesehatan — pembelian puluhan sampai ratusan unit untuk puskesmas dan posyandu di daerah prioritas stunting.
PosyanduScan membuat alat ukur panjang/tinggi dan berat balita otomatis untuk posyandu dan puskesmas — sensor jarak laser, kamera, pelat timbang, dan aplikasi yang menghitung z-score menurut Permenkes No. 2 Tahun 2020 lalu menandai anak berisiko stunting dan mengirim datanya ke bidan desa dan puskesmas. Alat teruji pada 120 balita (selisih 0,21 cm) dan di 4 posyandu (1 menit 35 detik per anak, satu petugas). Pembelinya pemerintah daerah lewat e-katalog dan pengadaan langsung, yayasan kesehatan anak, dan distributor alat kesehatan; minat bersyarat 320 unit sudah ada. Izin edar alat kesehatan belum terbit — dana yang dicari dipakai lebih dulu untuk sertifikasi, studi validasi klinis, dan produksi awal 300 unit.
Penjualan alat Rp8,9 juta per unit ke dinas dan yayasan (termasuk tablet, aplikasi 3 tahun, pelatihan kader, garansi 2 tahun), harga distributor Rp7,565 juta untuk penjualan lewat distributor (margin 15%), dan perpanjangan lisensi dasbor dan aplikasi Rp600.000 per unit per tahun setelah tahun ketiga.
Winnable market (SOM)
Rp8,93 M
per year, team's own assumptions
Approved evidence
32
12 from the team's own fieldwork
Orders delivered
0
4 orders recorded
Satu siklus = riset diulang dengan satu perubahan. Hasil akhir listing ini dipilih tim dari siklus yang sudah selesai.
Cycle 1
In final result6 Jul 2026 – 31 Jul 2026 · 16 approved claims
First cycle — the baseline.
Cycle 2
In final result17 Agu 2026 – 25 Sep 2026 · 16 approved claims
Pembeli diganti dari kader dan posyandu (jual langsung) ke pemerintah daerah lewat dinas kesehatan, yayasan kesehatan anak, dan distributor alat kesehatan; kanal berubah ke e-katalog dan pengadaan langsung.
Diperkuat oleh lebih dari satu siklus: Customer, Market, Competitor, Regulation
Akurasi dan kecepatan teruji di posyandu nyata
Pada 120 balita, selisih panjang/tinggi rata-rata 0,21 cm (95% anak dalam ±0,5 cm) dan berat 18 g terhadap alat standar; perhitungan status gizi cocok 500 dari 500 kasus. Dalam uji penerimaan 18 kader, waktu per anak turun dari 4 menit 20 detik menjadi 1 menit 35 detik dengan satu petugas. Pra-uji keselamatan listrik dan baterai lulus; uji formal dan studi klinis 600 balita belum dilakukan.
Distributor berizin dibutuhkan, tetapi izin edar adalah syarat semuanya
Distributor alat kesehatan meminta margin 12–18% dan hanya menawarkan produk berizin edar; pembayaran dinas cair 60–90 hari sehingga butuh stok konsinyasi dan modal kerja. PT Medika Sarana Nusantara siap mengambil 100 unit pertama begitu izin terbit.
Pesaing: paket manual murah, alat impor mahal, aplikasi tanpa alat
Paket manual Rp4–7 juta tetap standar di e-katalog; alat otomatis impor Rp18–35 juta dengan waktu tunggu 8–12 minggu; aplikasi pencatatan posyandu murah tetapi bergantung pada ukuran manual; pengukur berbasis ponsel belum berizin edar. Risiko lain: pemerintah pusat dapat membagikan paket manual dan menunda belanja daerah.
Dinas dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit untuk volume besar
Pembeli pemda dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit karena alat ini menyatukan ukur, timbang, dan pelaporan; 5 dari 7 narasumber siklus 2 menyatakan mau membeli dengan jumlah 4–120 unit, dan empat di antaranya sudah menjadi minat bersyarat 320 unit; dua lagi mempertimbangkan setelah izin edar dan integrasi pelaporan.
Pemerintah daerah punya mandat dan anggaran, bukan posyandu
Perpres 72/2021 mewajibkan pemda mengoordinasi pengukuran dan pelaporan status gizi; 7 dari 9 dinas punya pos anggaran alat antropometri dengan kebutuhan 50–300 unit per tahun di daerah lokus. Sekitar 300 ribu posyandu dan 10.300 puskesmas menjadi titik layanannya.
Izin edar dan TKDN menentukan siapa yang boleh membeli
Alat kesehatan wajib berizin edar (AKD) sebelum diedarkan, dan e-katalog serta pengadaan dengan dana publik mensyaratkannya, bersama prioritas produk dalam negeri. Semua dinas yang diwawancarai menyebut izin edar sebagai syarat pertama — karena itu pembelian saat ini baru berupa minat bersyarat, bukan pengiriman.
Harga alat otomatis jauh di atas yang bisa dibayar posyandu
Paket manual Rp4–7 juta sudah dianggap mahal oleh desa; ketua posyandu menyebut batas wajar Rp1–1,5 juta. Alat impor sekelas Rp18–35 juta. PosyanduScan di Rp8,9 juta lebih murah dari alat impor, tetapi hanya terjangkau oleh pembeli yang punya anggaran alat kesehatan.
Kader membutuhkan alat ini, tetapi bukan pembelinya
58% kader pernah salah baca atau catat dan pengukuran manual rata-rata 4 menit 20 detik dengan dua petugas, sehingga alat otomatis disambut baik. Namun kader tidak memegang anggaran: dana posyandu hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan, 14 posyandu yang ditawari tidak ada yang membeli, dan keputusan di desa butuh 6–8 bulan.
| Claim | Category | Source | Cycle |
|---|---|---|---|
| 4 dari 6 yayasan kesehatan anak tertarik menghibahkan unit ke posyandu binaan, dengan anggaran program Rp100–500 juta. | Customer | Data contoh (fiktif) — wawancara yayasan kesehatan anakDemo data | 2 |
| Distributor alat kesehatan berizin meminta margin 12–18% dan pembayaran pemda biasanya cair 60–90 hari. | Market | Data contoh (fiktif) — wawancara distributor alat kesehatanDemo data | 2 |
| Pemerintah pusat pernah membagikan paket antropometri manual ke posyandu; pembagian serupa bisa menunda belanja daerah. | Competitor | Data contoh (fiktif) — liputan program pengadaan pusatDemo data | 2 |
| Pengukur panjang badan berbasis pindai ponsel masih tahap riset, belum berizin edar, dan kurang akurat untuk anak yang bergerak. | Competitor | Data contoh (fiktif) — liputan teknologi ukur berbasis kameraDemo data | 2 |
| Pak Dedi (Direktur PT Medika Sarana Nusantara, distributor alat kesehatan berizin (fiktif)): Kami ambil kalau izin edarnya terbit. Margin 15% dan dinas membayar 60–90 hari, jadi saya butuh stok konsinyasi di awal. | Customer | wawancara — Pak DediUser interview | 2 |
| Dinas dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit untuk alat yang menyatukan ukur, timbang, dan pelaporan. | Customer | Data contoh (fiktif) — survei harga pembeli pemda dan yayasanDemo data | 2 |
| Bu Ratih (Program officer, Yayasan Tumbuh Sehat Anak (fiktif)): Donor kami ingin dampak yang terukur. Alat yang menghasilkan data bersih per posyandu itu nilai jualnya. | Customer | wawancara — Bu RatihUser interview | 2 |
| 7 dari 9 dinas kesehatan punya pos anggaran alat antropometri; belanja per kabupaten 50–300 unit per tahun di daerah lokus stunting. | Customer | Data contoh (fiktif) — wawancara 9 dinas kesehatanDemo data | 2 |
| Alat ukur otomatis impor Rp18–35 juta, tunggu 8–12 minggu, servis sulit; hanya dibeli untuk rumah sakit dan puskesmas besar. | Competitor | Data contoh (fiktif) — penawaran pemasok alat impor ke dinasDemo data | 2 |
| Aplikasi pencatatan posyandu ada dan murah (gratis sampai Rp1 juta per tahun), tetapi akurasinya bergantung pada ukuran manual. | Competitor | Data contoh (fiktif) — pantauan aplikasi pencatatan posyanduDemo data | 2 |
| Paket antropometri manual Rp4–7 juta tetap dominan di e-katalog; alat otomatis nyaris tidak ada. | Competitor | Data contoh (fiktif) — pantauan e-katalog alat kesehatanDemo data | 2 |
| Bu Dwi (Pengelola program gizi, Puskesmas Cibeureum (fiktif)): Dengan alat ini saya tidak perlu turun mengukur ulang anak yang diragukan kader. Datanya langsung muncul di dasbor. | Customer | uji-lapangan — Bu DwiUser interview | 2 |
| Pengadaan langsung berlaku sampai Rp200 juta; di atasnya lewat e-katalog dengan syarat izin edar dan TKDN. | Regulation | Data contoh (fiktif) — ringkasan aturan pengadaan pemerintahDemo data | 2 |
| Pak Hendra (Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif)): Tiap tahun kami diminta lapor data stunting yang akurat, tapi ukuran di posyandu beda-beda. Kalau alatnya berizin edar dan masuk e-katalog, bisa kami anggarkan | Customer | wawancara — Pak HendraUser interview | 2 |
| Stunting nasional sekitar 21,5% (SSGI 2023); ada sekitar 300 ribu posyandu aktif dan 10.300 puskesmas. | Market | Data contoh (fiktif) — ringkasan data kesehatan nasionalDemo data | 2 |
| Perpres No. 72 Tahun 2021 menetapkan target penurunan stunting dan mewajibkan pemda mengoordinasi pengukuran dan pelaporan status gizi balita secara berkala. | Regulation | Data contoh (fiktif) — ringkasan Perpres percepatan penurunan stuntingDemo data | 2 |
| Uji tawar 6 minggu ke 14 posyandu dan desa: 0 pembelian; keputusan ada di musyawarah desa dan butuh 6–8 bulan. | Customer | Data contoh (fiktif) — uji tawar tim ke posyanduDemo data | 1 |
| Alat kesehatan wajib memiliki izin edar sebelum diedarkan; pembelian dengan dana publik mensyaratkannya. | Regulation | Data contoh (fiktif) — ringkasan aturan izin edar alat kesehatanDemo data | 1 |
| Papan ukur dan timbangan digital impor Rp18–35 juta per set, waktu tunggu 8–12 minggu, hanya di rumah sakit dan sebagian puskesmas. | Competitor | Data contoh (fiktif) — penawaran pemasok alat imporDemo data | 1 |
| Timbangan bayi digital Rp1,2–3,5 juta dan infantometer manual Rp0,9–2,5 juta — kader terbiasa dengan alat satuan murah. | Competitor | Data contoh (fiktif) — pantauan harga alat ukur satuanDemo data | 1 |
| Paket antropometri manual (infantometer, stadiometer, timbangan digital) dijual Rp4–7 juta dan dipakai hampir semua posyandu. | Competitor | Data contoh (fiktif) — pantauan e-katalog dan marketplace alat kesehatanDemo data | 1 |
| Anggaran posyandu tidak mencapai harga alat otomatis: batas wajar yang disebut kader hanya Rp1–1,5 juta. | Customer | Data contoh (fiktif) — survei anggaran posyanduDemo data | 1 |
| Bu Yeni, 36 th (Kader Posyandu Kenanga 1, Desa Cibeureum (fiktif)): Saya senang tidak perlu dua orang untuk mengukur. Tapi saya bukan yang membeli, saya cuma yang memakai. | Customer | wawancara — Bu Yeni, 36 thUser interview | 1 |
| Bu Neneng, 44 th (Ketua kader Posyandu Melati 3, Desa Sukamaju (fiktif)): Alatnya cepat dan anak tidak lama menangis. Tapi uang dari mana? Dana posyandu sebulan cuma beberapa ratus ribu. | Customer | uji-lapangan — Bu Neneng, 44 thUser interview | 1 |
Dihitung dari empat asumsi tim sendiri; asumsi yang belum bersandar pada bukti ditandai.
Modal awal Rp2,4 M, biaya operasional Rp1,16 M per tahun, proyeksi 5 tahun.
Startup capital
Rp2,4 M
NPV
Rp600 jt
discount rate 12%
IRR
18%
Payback
Year 4
| Year | Units | Revenue | Cost | Net |
|---|---|---|---|---|
| Y1 | 80 | Rp648 jt | Rp1,16 M | −Rp508 jt |
| Y2 | 300 | Rp2,43 M | Rp1,65 M | Rp778 jt |
| Y3 | 600 | Rp4,86 M | Rp4,01 M | Rp850 jt |
| Y4 | 800 | Rp6,48 M | Rp4,92 M | Rp1,56 M |
| Y5 | 950 | Rp7,7 M | Rp5,52 M | Rp2,18 M |
Dirakit Agnive Insight dari data proyek — setiap slide menyebut apa yang mendasarinya.
PosyanduScan — alat ukur balita otomatis
Uji akurasi panjang/tinggi badan terhadap alat standar
Rata-rata selisih mutlak 0,21 cm; 114 dari 120 anak (95%) dalam ±0,5 cm; selisih terbesar 0,8 cm. 8 anak (6,7%) perlu diukur ulang karena bergerak.
Uji akurasi berat badan terhadap timbangan referensi
Rata-rata selisih mutlak 18 g, maksimum 40 g; 120 dari 120 anak dalam ±50 g.
Verifikasi perhitungan status gizi aplikasi
Kategori BB/U, TB/U, BB/TB, dan IMT/U sama pada 500 dari 500 kasus; z-score sama sampai dua desimal.
Pra-uji keselamatan listrik dan baterai
Lulus 14 dari 14 butir: arus bocor sentuh 21 µA (batas 100 µA), isolasi lebih dari 100 MΩ, kenaikan suhu 11 K, baterai aman pada hubung singkat dan isi berlebih. Belum sertifikat — uji formal dijadwalkan.
Uji ketahanan mekanik dan lingkungan
Tidak ada kerusakan; pergeseran kalibrasi paling besar 0,1 cm.
Uji penerimaan pengguna (UAT) bersama 18 kader di 4 posyanduWith real users
Waktu per anak turun dari 4 menit 20 detik (2 petugas) menjadi 1 menit 35 detik (1 petugas); 0 kesalahan catat (manual 11 dari 100); skor SUS 82; 17 dari 18 kader ingin terus memakai.
Uji sinkronisasi data dan mode luring
1.906 rekaman: 0 hilang, 3 duplikat dibuang otomatis.
Puskesmas Cibeureum (fiktif)
Puskesmas Cibeureum, Kabupaten Contoh Makmur (fiktif) · user · engaged
Pusat Studi Gizi dan Tumbuh Kembang Anak (fiktif)
Pusat studi gizi dan tumbuh kembang anak (fiktif) · research · engaged
Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif)
Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif) · user · committed
Yayasan Tumbuh Sehat Anak (fiktif)
Yayasan Tumbuh Sehat Anak, Bandung (fiktif) · user · engaged
PT Medika Sarana Nusantara (fiktif)
PT Medika Sarana Nusantara, Bandung (fiktif) · industry · committed
Laboratorium Uji Elektromedik Nusantara (fiktif)
Laboratorium uji elektromedik terakreditasi (fiktif) · research · engaged
PT Sensor Presisi Nusantara (fiktif)
PT Sensor Presisi Nusantara, Bekasi (fiktif) · supplier · committed
CV Rakit Mandiri Presisi (fiktif)
CV Rakit Mandiri Presisi, Bandung (fiktif) · supplier · committed
PT Tablet Industri Lokal (fiktif)
PT Tablet Industri Lokal, Tangerang (fiktif) · supplier · engaged
Citra Dewi
Team lead · Technical
Fajar Nugroho (contoh)
Operations
Laras Kusumawardani (contoh)
Business
Galih Prasetyo (contoh)
Sales
Didampingi program Program Demo 2026 · Institusi Demo.
Izin edar alat kesehatan terlambat atau meminta data tambahan
Severity 20/25Mitigation: Konsultan regulasi sejak awal; studi validasi klinis dirancang sesuai syarat berkas; cadangan dana Rp90 juta; produksi massal baru setelah izin terbit.
Pembagian paket alat dari pemerintah pusat membuat pemda menunda belanja
Severity 12/25Mitigation: Fokus pada dinas lokus stunting yang sudah punya anggaran; tekankan nilai data dan pelaporan, bukan sekadar alat; kontrak payung berjangka.
Pembayaran dinas 60–90 hari menekan arus kas
Severity 12/25Mitigation: Uang muka 30% pada kontrak; stok konsinyasi terbatas ke distributor; produksi bertahap sesuai kontrak.
Akurasi turun pada anak gelisah, bayi sangat kecil, atau cahaya ekstrem
Severity 12/25Mitigation: SOP kader (batas ulang 3 kali), tudung layar, pemeriksaan posisi kamera otomatis, dan studi validasi 600 balita.
Paket manual Rp4–7 juta tetap dipilih karena murah
Severity 12/25Mitigation: Hitung biaya total (waktu petugas, akurasi, lisensi 3 tahun); peragaan langsung; paket hibah lewat yayasan.
Kebocoran atau penyalahgunaan data anak
Severity 10/25Mitigation: Enkripsi di perangkat dan saat kirim, akses per peran, persetujuan orang tua, audit keamanan tahunan.
Tablet dan modul sensor impor: kurs dan waktu tunggu 6 minggu
Severity 9/25Mitigation: Dua pemasok berkomitmen; stok penyangga 60 unit; negosiasi pemasok tablet lokal ber-TKDN.
Dokumen yang dipilih tim untuk dibagikan di Hub.
Interested in PosyanduScan?
Tim PosyanduScan membuka diri untuk pendanaan ekuitas / convertible note, pilot pengadaan dengan dinas kesehatan, distribusi alat kesehatan.
Tim KasirAI · Institusi Demo
Funding ask
Rp180 jt
Tim Lapisbumi · Institusi Demo
Funding ask
Rp9 M
Tim WattWise · Institusi Demo
Funding ask
Rp4,5 M