AgniveHub
PosyanduScan — alat ukur balita otomatis — photo 1 AI-generated illustration
Health Blended from 2 cycles 100% research complete

PosyanduScan — alat ukur balita otomatis

Alat Ukur Panjang, Tinggi, dan Berat Balita Otomatis dengan Deteksi Dini Risiko Stunting untuk Posyandu

Funding ask

Rp2,4 M

Rp2.400.000.000

NPV

Rp600 jt

@ 12%

IRR

18%

5-year projection

Payback

Year 4

cumulative cash

TRL
7/9
CRL
2/5
NYSERDA
T7·C7
Score
—

Team is open to

Pendanaan ekuitas / convertible note Pilot pengadaan dengan dinas kesehatan Distribusi alat kesehatan Kemitraan regulasi dan studi klinis Hibah / CSR kesehatan anak
P

Tim PosyanduScan

Unit Riset & Inovasi · Institusi Demo

Published 1 Okt 2026

Overview

The problem

Pengukuran panjang/tinggi badan balita di posyandu umumnya masih manual: butuh dua petugas, rata-rata 4 menit per anak, dan hasilnya sering berbeda antar-kader sampai sekitar 1 cm — padahal selisih 1 cm bisa menggeser status anak dari normal menjadi pendek. Hasil dicatat di kertas lalu disalin ke laporan gizi, sehingga anak yang berisiko stunting sering baru terlihat berbulan-bulan kemudian. Prevalensi stunting nasional masih sekitar 21,5% (SSGI 2023), Perpres No. 72 Tahun 2021 mewajibkan percepatan penurunannya, dan Permenkes No. 2 Tahun 2020 mensyaratkan status gizi dihitung dengan z-score — hitungan yang sulit dilakukan kader di tempat. Alat ukur otomatis yang ada diimpor dengan harga Rp18–35 juta per set, jauh di luar anggaran posyandu.

What it does better

Satu alat untuk panjang/tinggi dan berat: sensor jarak laser dan kamera memeriksa posisi anak, pelat timbang membaca berat, lalu aplikasi menghitung z-score sesuai Permenkes No. 2 Tahun 2020 dan menandai risiko stunting dengan kartu hijau/kuning/merah. Teruji pada 120 balita: selisih panjang/tinggi rata-rata 0,21 cm dan berat 18 g terhadap alat standar; satu petugas, 1 menit 35 detik per anak. Bekerja tanpa sinyal dan datanya otomatis sampai ke bidan desa dan puskesmas. Harga Rp8,9 juta — kurang dari separuh alat impor sekelas.

Who buys it

Dinas kesehatan kabupaten/kota (lewat e-katalog LKPP dan pengadaan langsung), yayasan dan program CSR kesehatan anak, serta distributor alat kesehatan — pembelian puluhan sampai ratusan unit untuk puskesmas dan posyandu di daerah prioritas stunting.

Business summary

PosyanduScan membuat alat ukur panjang/tinggi dan berat balita otomatis untuk posyandu dan puskesmas — sensor jarak laser, kamera, pelat timbang, dan aplikasi yang menghitung z-score menurut Permenkes No. 2 Tahun 2020 lalu menandai anak berisiko stunting dan mengirim datanya ke bidan desa dan puskesmas. Alat teruji pada 120 balita (selisih 0,21 cm) dan di 4 posyandu (1 menit 35 detik per anak, satu petugas). Pembelinya pemerintah daerah lewat e-katalog dan pengadaan langsung, yayasan kesehatan anak, dan distributor alat kesehatan; minat bersyarat 320 unit sudah ada. Izin edar alat kesehatan belum terbit — dana yang dicari dipakai lebih dulu untuk sertifikasi, studi validasi klinis, dan produksi awal 300 unit.

How it makes money

Penjualan alat Rp8,9 juta per unit ke dinas dan yayasan (termasuk tablet, aplikasi 3 tahun, pelatihan kader, garansi 2 tahun), harga distributor Rp7,565 juta untuk penjualan lewat distributor (margin 15%), dan perpanjangan lisensi dasbor dan aplikasi Rp600.000 per unit per tahun setelah tahun ketiga.

Winnable market (SOM)

Rp8,93 M

per year, team's own assumptions

Approved evidence

32

12 from the team's own fieldwork

Orders delivered

0

4 orders recorded

Evidence & research cycles

Satu siklus = riset diulang dengan satu perubahan. Hasil akhir listing ini dipilih tim dari siklus yang sudah selesai.

  1. Cycle 1

    In final result

    6 Jul 2026 – 31 Jul 2026 · 16 approved claims

    First cycle — the baseline.

  2. Cycle 2

    In final result

    17 Agu 2026 – 25 Sep 2026 · 16 approved claims

    Pembeli diganti dari kader dan posyandu (jual langsung) ke pemerintah daerah lewat dinas kesehatan, yayasan kesehatan anak, dan distributor alat kesehatan; kanal berubah ke e-katalog dan pengadaan langsung.

Diperkuat oleh lebih dari satu siklus: Customer, Market, Competitor, Regulation

Key findings

  • Verified dataCycle 1

    Akurasi dan kecepatan teruji di posyandu nyata

    Pada 120 balita, selisih panjang/tinggi rata-rata 0,21 cm (95% anak dalam ±0,5 cm) dan berat 18 g terhadap alat standar; perhitungan status gizi cocok 500 dari 500 kasus. Dalam uji penerimaan 18 kader, waktu per anak turun dari 4 menit 20 detik menjadi 1 menit 35 detik dengan satu petugas. Pra-uji keselamatan listrik dan baterai lulus; uji formal dan studi klinis 600 balita belum dilakukan.

  • Verified dataCycle 2

    Distributor berizin dibutuhkan, tetapi izin edar adalah syarat semuanya

    Distributor alat kesehatan meminta margin 12–18% dan hanya menawarkan produk berizin edar; pembayaran dinas cair 60–90 hari sehingga butuh stok konsinyasi dan modal kerja. PT Medika Sarana Nusantara siap mengambil 100 unit pertama begitu izin terbit.

  • Verified dataCycle 1 + 2

    Pesaing: paket manual murah, alat impor mahal, aplikasi tanpa alat

    Paket manual Rp4–7 juta tetap standar di e-katalog; alat otomatis impor Rp18–35 juta dengan waktu tunggu 8–12 minggu; aplikasi pencatatan posyandu murah tetapi bergantung pada ukuran manual; pengukur berbasis ponsel belum berizin edar. Risiko lain: pemerintah pusat dapat membagikan paket manual dan menunda belanja daerah.

  • Verified dataCycle 2

    Dinas dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit untuk volume besar

    Pembeli pemda dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit karena alat ini menyatukan ukur, timbang, dan pelaporan; 5 dari 7 narasumber siklus 2 menyatakan mau membeli dengan jumlah 4–120 unit, dan empat di antaranya sudah menjadi minat bersyarat 320 unit; dua lagi mempertimbangkan setelah izin edar dan integrasi pelaporan.

  • Verified dataCycle 2

    Pemerintah daerah punya mandat dan anggaran, bukan posyandu

    Perpres 72/2021 mewajibkan pemda mengoordinasi pengukuran dan pelaporan status gizi; 7 dari 9 dinas punya pos anggaran alat antropometri dengan kebutuhan 50–300 unit per tahun di daerah lokus. Sekitar 300 ribu posyandu dan 10.300 puskesmas menjadi titik layanannya.

  • Verified dataCycle 1 + 2

    Izin edar dan TKDN menentukan siapa yang boleh membeli

    Alat kesehatan wajib berizin edar (AKD) sebelum diedarkan, dan e-katalog serta pengadaan dengan dana publik mensyaratkannya, bersama prioritas produk dalam negeri. Semua dinas yang diwawancarai menyebut izin edar sebagai syarat pertama — karena itu pembelian saat ini baru berupa minat bersyarat, bukan pengiriman.

  • Verified dataCycle 1

    Harga alat otomatis jauh di atas yang bisa dibayar posyandu

    Paket manual Rp4–7 juta sudah dianggap mahal oleh desa; ketua posyandu menyebut batas wajar Rp1–1,5 juta. Alat impor sekelas Rp18–35 juta. PosyanduScan di Rp8,9 juta lebih murah dari alat impor, tetapi hanya terjangkau oleh pembeli yang punya anggaran alat kesehatan.

  • Verified dataCycle 1

    Kader membutuhkan alat ini, tetapi bukan pembelinya

    58% kader pernah salah baca atau catat dan pengukuran manual rata-rata 4 menit 20 detik dengan dua petugas, sehingga alat otomatis disambut baik. Namun kader tidak memegang anggaran: dana posyandu hanya beberapa ratus ribu rupiah per bulan, 14 posyandu yang ditawari tidak ada yang membeli, dan keputusan di desa butuh 6–8 bulan.

ClaimCategorySourceCycle
4 dari 6 yayasan kesehatan anak tertarik menghibahkan unit ke posyandu binaan, dengan anggaran program Rp100–500 juta.CustomerData contoh (fiktif) — wawancara yayasan kesehatan anakDemo data2
Distributor alat kesehatan berizin meminta margin 12–18% dan pembayaran pemda biasanya cair 60–90 hari.MarketData contoh (fiktif) — wawancara distributor alat kesehatanDemo data2
Pemerintah pusat pernah membagikan paket antropometri manual ke posyandu; pembagian serupa bisa menunda belanja daerah.CompetitorData contoh (fiktif) — liputan program pengadaan pusatDemo data2
Pengukur panjang badan berbasis pindai ponsel masih tahap riset, belum berizin edar, dan kurang akurat untuk anak yang bergerak.CompetitorData contoh (fiktif) — liputan teknologi ukur berbasis kameraDemo data2
Pak Dedi (Direktur PT Medika Sarana Nusantara, distributor alat kesehatan berizin (fiktif)): Kami ambil kalau izin edarnya terbit. Margin 15% dan dinas membayar 60–90 hari, jadi saya butuh stok konsinyasi di awal.Customerwawancara — Pak DediUser interview2
Dinas dan yayasan menerima Rp7–10 juta per unit untuk alat yang menyatukan ukur, timbang, dan pelaporan.CustomerData contoh (fiktif) — survei harga pembeli pemda dan yayasanDemo data2
Bu Ratih (Program officer, Yayasan Tumbuh Sehat Anak (fiktif)): Donor kami ingin dampak yang terukur. Alat yang menghasilkan data bersih per posyandu itu nilai jualnya.Customerwawancara — Bu RatihUser interview2
7 dari 9 dinas kesehatan punya pos anggaran alat antropometri; belanja per kabupaten 50–300 unit per tahun di daerah lokus stunting.CustomerData contoh (fiktif) — wawancara 9 dinas kesehatanDemo data2
Alat ukur otomatis impor Rp18–35 juta, tunggu 8–12 minggu, servis sulit; hanya dibeli untuk rumah sakit dan puskesmas besar.CompetitorData contoh (fiktif) — penawaran pemasok alat impor ke dinasDemo data2
Aplikasi pencatatan posyandu ada dan murah (gratis sampai Rp1 juta per tahun), tetapi akurasinya bergantung pada ukuran manual.CompetitorData contoh (fiktif) — pantauan aplikasi pencatatan posyanduDemo data2
Paket antropometri manual Rp4–7 juta tetap dominan di e-katalog; alat otomatis nyaris tidak ada.CompetitorData contoh (fiktif) — pantauan e-katalog alat kesehatanDemo data2
Bu Dwi (Pengelola program gizi, Puskesmas Cibeureum (fiktif)): Dengan alat ini saya tidak perlu turun mengukur ulang anak yang diragukan kader. Datanya langsung muncul di dasbor.Customeruji-lapangan — Bu DwiUser interview2
Pengadaan langsung berlaku sampai Rp200 juta; di atasnya lewat e-katalog dengan syarat izin edar dan TKDN.RegulationData contoh (fiktif) — ringkasan aturan pengadaan pemerintahDemo data2
Pak Hendra (Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif)): Tiap tahun kami diminta lapor data stunting yang akurat, tapi ukuran di posyandu beda-beda. Kalau alatnya berizin edar dan masuk e-katalog, bisa kami anggarkan Customerwawancara — Pak HendraUser interview2
Stunting nasional sekitar 21,5% (SSGI 2023); ada sekitar 300 ribu posyandu aktif dan 10.300 puskesmas.MarketData contoh (fiktif) — ringkasan data kesehatan nasionalDemo data2
Perpres No. 72 Tahun 2021 menetapkan target penurunan stunting dan mewajibkan pemda mengoordinasi pengukuran dan pelaporan status gizi balita secara berkala.RegulationData contoh (fiktif) — ringkasan Perpres percepatan penurunan stuntingDemo data2
Uji tawar 6 minggu ke 14 posyandu dan desa: 0 pembelian; keputusan ada di musyawarah desa dan butuh 6–8 bulan.CustomerData contoh (fiktif) — uji tawar tim ke posyanduDemo data1
Alat kesehatan wajib memiliki izin edar sebelum diedarkan; pembelian dengan dana publik mensyaratkannya.RegulationData contoh (fiktif) — ringkasan aturan izin edar alat kesehatanDemo data1
Papan ukur dan timbangan digital impor Rp18–35 juta per set, waktu tunggu 8–12 minggu, hanya di rumah sakit dan sebagian puskesmas.CompetitorData contoh (fiktif) — penawaran pemasok alat imporDemo data1
Timbangan bayi digital Rp1,2–3,5 juta dan infantometer manual Rp0,9–2,5 juta — kader terbiasa dengan alat satuan murah.CompetitorData contoh (fiktif) — pantauan harga alat ukur satuanDemo data1
Paket antropometri manual (infantometer, stadiometer, timbangan digital) dijual Rp4–7 juta dan dipakai hampir semua posyandu.CompetitorData contoh (fiktif) — pantauan e-katalog dan marketplace alat kesehatanDemo data1
Anggaran posyandu tidak mencapai harga alat otomatis: batas wajar yang disebut kader hanya Rp1–1,5 juta.CustomerData contoh (fiktif) — survei anggaran posyanduDemo data1
Bu Yeni, 36 th (Kader Posyandu Kenanga 1, Desa Cibeureum (fiktif)): Saya senang tidak perlu dua orang untuk mengukur. Tapi saya bukan yang membeli, saya cuma yang memakai.Customerwawancara — Bu Yeni, 36 thUser interview1
Bu Neneng, 44 th (Ketua kader Posyandu Melati 3, Desa Sukamaju (fiktif)): Alatnya cepat dan anak tidak lama menangis. Tapi uang dari mana? Dana posyandu sebulan cuma beberapa ratus ribu.Customeruji-lapangan — Bu Neneng, 44 thUser interview1

Market size

Dihitung dari empat asumsi tim sendiri; asumsi yang belum bersandar pada bukti ditandai.

TAM · Total marketRp744 M
SAM · ReachableRp148,8 M
SOM · WinnableRp8,93 M
  • Jumlah calon pembeli±300.000 posyandu aktif + ±10.300 puskesmas di seluruh Indonesia.310.000Backed by evidence
  • Harga per pembelianAlat Rp8,9 juta ÷ 5 tahun pakai ≈ Rp1,78 juta + langganan Rp0,6 juta per tahun.Rp2 jtBacked by evidence
  • Porsi yang bisa dijangkauDaerah prioritas stunting dengan anggaran alat kesehatan yang bisa dilayani lewat e-katalog dan distributor.20%Backed by evidence
  • Porsi yang realistis direbutPaket manual murah dan pembagian alat pusat menahan pangsa; 4 pembeli sudah menyatakan minat 320 unit.6%Backed by evidence

Financial plan

Modal awal Rp2,4 M, biaya operasional Rp1,16 M per tahun, proyeksi 5 tahun.

Startup capital

Rp2,4 M

NPV

Rp600 jt

discount rate 12%

IRR

18%

Payback

Year 4

Use of funds

  • Sertifikasi alat kesehatan: izin edar AKD, uji IEC 60601-1/EMC, uji baterai IEC 62133, audit CPAKB, tera metrologi, konsultan regulasiRp380 jt
  • Studi validasi klinis akurasi: komite etik, 600 balita di 12 posyandu, alat referensi, enumerator, analisis statistikRp290 jt
  • Produksi awal 300 unit (komponen, perakitan, QC, kemasan)Rp1,35 M
  • Cetakan injeksi casing produksi massalRp120 jt
  • Perangkat lunak, server, dan keamanan dataRp80 jt
  • TKDN, registrasi e-katalog, dan 10 unit demoRp50 jt
  • Pelatihan 120 kader pertama dan layanan lapanganRp40 jt
  • Cadangan keterlambatan izin dan piutang pemdaRp90 jt

Revenue vs cost projection

Revenue Cost
Rp0Rp2,08 MRp4,16 MRp6,23 MRp8,31 MYear 1 revenue: Rp648 jtYear 1 cost: Rp1,16 MY1Year 2 revenue: Rp2,43 MYear 2 cost: Rp1,65 MY2Year 3 revenue: Rp4,86 MYear 3 cost: Rp4,01 MY3Year 4 revenue: Rp6,48 MYear 4 cost: Rp4,92 MY4Year 5 revenue: Rp7,7 MYear 5 cost: Rp5,52 MY5
YearUnitsRevenueCostNet
Y180Rp648 jtRp1,16 M−Rp508 jt
Y2300Rp2,43 MRp1,65 MRp778 jt
Y3600Rp4,86 MRp4,01 MRp850 jt
Y4800Rp6,48 MRp4,92 MRp1,56 M
Y5950Rp7,7 MRp5,52 MRp2,18 M

Yearly operating costs

  • Gaji 8 orang (perangkat keras 2, perangkat lunak 2, regulasi & mutu 1, operasi 1, penjualan pemerintah 2)Rp832 jt
  • Cloud, server, keamanan data, dan lisensi perangkat lunakRp84 jt
  • Pemasaran, e-katalog, dan peragaan ke dinas kesehatanRp108 jt
  • Layanan purna jual dan kalibrasi tahunanRp36 jt
  • Sewa ruang kerja dan perakitan (Bandung)Rp66 jt
  • Pemeliharaan alat uji, asuransi, dan audit mutuRp30 jt

Pitch deck

Dirakit Agnive Insight dari data proyek — setiap slide menyebut apa yang mendasarinya.

Problem1 / 13

Pengukuran panjang/tinggi badan balita di posyandu umumnya masih manual: butuh dua petugas, rata-rata 4 menit per anak, dan hasilnya sering berbeda antar-kader sampai sekitar 1 cm — padahal selisih 1 cm bisa menggeser status anak dari normal menjadi pendek. Hasil dicatat di kertas lalu disalin ke laporan gizi, sehingga anak yang berisiko stunting sering baru terlihat berbulan-bulan kemudian. Prevalensi stunting nasional masih sekitar 21,5% (SSGI 2023), Perpres No. 72 Tahun 2021 mewajibkan percepatan penurunannya, dan Permenkes No. 2 Tahun 2020 mensyaratkan status gizi dihitung dengan z-score — hitungan yang sulit dilakukan kader di tempat. Alat ukur otomatis yang ada diimpor dengan harga Rp18–35 juta per set, jauh di luar anggaran posyandu.

  • Kader merasakan pengukuran manual lambat dan tidak seragam: rata-rata 4 menit per anak dan dua petugas.
  • Stunting nasional sekitar 21,5% (SSGI 2023); ada sekitar 300 ribu posyandu aktif dan 10.300 puskesmas.
  • Distributor alat kesehatan berizin meminta margin 12–18% dan pembayaran pemda biasanya cair 60–90 hari.

PosyanduScan — alat ukur balita otomatis

Backed by evidence

Product & proof

Measured specifications

Rentang panjang/tinggi badan
45–120 cm, resolusi 0,1 cm
Akurasi panjang/tinggi badan
Rata-rata selisih 0,21 cm; 114 dari 120 anak (95%) dalam ±0,5 cm
Rentang dan resolusi berat
0,5–30 kg, resolusi 10 g
Akurasi berat badan
Rata-rata selisih 18 g, maksimum 40 g (batas ±50 g)
Waktu pengukuran per anak
1 menit 35 detik dengan 1 petugas (manual: 4 menit 20 detik, 2 petugas)
Ketepatan perhitungan status gizi
500 dari 500 kasus uji sama dengan acuan Permenkes No. 2 Tahun 2020
Daya tahan baterai
Li-ion 7,4 V 5.200 mAh, ±160 anak per hari
Dimensi dan berat
Terbuka 128 × 24 cm; terlipat 62 × 24 × 12 cm; 4,8 kg
Ketahanan
Jatuh 80 cm, RH 85%, suhu 15–40°C, 5.000 siklus lipat tanpa kerusakan

Tests passed

  • Uji akurasi panjang/tinggi badan terhadap alat standar

    Rata-rata selisih mutlak 0,21 cm; 114 dari 120 anak (95%) dalam ±0,5 cm; selisih terbesar 0,8 cm. 8 anak (6,7%) perlu diukur ulang karena bergerak.

  • Uji akurasi berat badan terhadap timbangan referensi

    Rata-rata selisih mutlak 18 g, maksimum 40 g; 120 dari 120 anak dalam ±50 g.

  • Verifikasi perhitungan status gizi aplikasi

    Kategori BB/U, TB/U, BB/TB, dan IMT/U sama pada 500 dari 500 kasus; z-score sama sampai dua desimal.

  • Pra-uji keselamatan listrik dan baterai

    Lulus 14 dari 14 butir: arus bocor sentuh 21 µA (batas 100 µA), isolasi lebih dari 100 MΩ, kenaikan suhu 11 K, baterai aman pada hubung singkat dan isi berlebih. Belum sertifikat — uji formal dijadwalkan.

  • Uji ketahanan mekanik dan lingkungan

    Tidak ada kerusakan; pergeseran kalibrasi paling besar 0,1 cm.

  • Uji penerimaan pengguna (UAT) bersama 18 kader di 4 posyanduWith real users

    Waktu per anak turun dari 4 menit 20 detik (2 petugas) menjadi 1 menit 35 detik (1 petugas); 0 kesalahan catat (manual 11 dari 100); skor SUS 82; 17 dari 18 kader ingin terus memakai.

  • Uji sinkronisasi data dan mode luring

    1.906 rekaman: 0 hilang, 3 duplikat dibuang otomatis.

Permits & certification

  • Pendirian PT dan NIB (OSS RBA)In progress
  • Izin edar alat kesehatan dalam negeri (AKD)In progress
  • Uji formal keselamatan listrik & EMC (IEC 60601-1, 60601-1-2) dan baterai (IEC 62133)In progress
  • Sertifikat produksi alat kesehatan (CPAKB)Not started
  • Tera metrologi legal fungsi timbangNot started
  • Sertifikat TKDN dan produk dalam negeri (syarat e-katalog)Not started
  • Pelindungan data pribadi anakIn progress
  • Pendaftaran merek PosyanduScan (DJKI)In progress

Partners

  • Puskesmas Cibeureum (fiktif)

    Puskesmas Cibeureum, Kabupaten Contoh Makmur (fiktif) · user · engaged

  • Pusat Studi Gizi dan Tumbuh Kembang Anak (fiktif)

    Pusat studi gizi dan tumbuh kembang anak (fiktif) · research · engaged

  • Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif)

    Dinas Kesehatan Kabupaten Contoh Makmur (fiktif) · user · committed

  • Yayasan Tumbuh Sehat Anak (fiktif)

    Yayasan Tumbuh Sehat Anak, Bandung (fiktif) · user · engaged

  • PT Medika Sarana Nusantara (fiktif)

    PT Medika Sarana Nusantara, Bandung (fiktif) · industry · committed

  • Laboratorium Uji Elektromedik Nusantara (fiktif)

    Laboratorium uji elektromedik terakreditasi (fiktif) · research · engaged

  • PT Sensor Presisi Nusantara (fiktif)

    PT Sensor Presisi Nusantara, Bekasi (fiktif) · supplier · committed

  • CV Rakit Mandiri Presisi (fiktif)

    CV Rakit Mandiri Presisi, Bandung (fiktif) · supplier · committed

  • PT Tablet Industri Lokal (fiktif)

    PT Tablet Industri Lokal, Tangerang (fiktif) · supplier · engaged

Team

C

Citra Dewi

Team lead · Technical

F

Fajar Nugroho (contoh)

Operations

L

Laras Kusumawardani (contoh)

Business

G

Galih Prasetyo (contoh)

Sales

Didampingi program Program Demo 2026 · Institusi Demo.

Roadmap & risks

Research · Validasi akurasi 120 balita dan uji penerimaan di 4 posyandu
Regulation · Pra-uji keselamatan listrik, baterai, dan ketahanan
Regulation · Pendirian PT, NIB, dan pengajuan awal izin edar
Regulation · Uji formal IEC 60601-1/EMC dan IEC 62133
Research · Studi validasi klinis 600 balita di 12 posyandu
Regulation · Izin edar AKD terbit dan audit CPAKB
Product · Produksi 300 unit dan cetakan injeksi casing
Business · Sertifikat TKDN dan registrasi e-katalog
Business · Kontrak payung dengan 3 dinas dan distribusi PT Medika Sarana Nusantara
Product · Integrasi pelaporan gizi dan versi S2 (anak di bawah 6 bulan)
Business · Penjualan 300 unit per tahun
Month 1Month 12Month 24
  • Izin edar alat kesehatan terlambat atau meminta data tambahan

    Severity 20/25

    Mitigation: Konsultan regulasi sejak awal; studi validasi klinis dirancang sesuai syarat berkas; cadangan dana Rp90 juta; produksi massal baru setelah izin terbit.

  • Pembagian paket alat dari pemerintah pusat membuat pemda menunda belanja

    Severity 12/25

    Mitigation: Fokus pada dinas lokus stunting yang sudah punya anggaran; tekankan nilai data dan pelaporan, bukan sekadar alat; kontrak payung berjangka.

  • Pembayaran dinas 60–90 hari menekan arus kas

    Severity 12/25

    Mitigation: Uang muka 30% pada kontrak; stok konsinyasi terbatas ke distributor; produksi bertahap sesuai kontrak.

  • Akurasi turun pada anak gelisah, bayi sangat kecil, atau cahaya ekstrem

    Severity 12/25

    Mitigation: SOP kader (batas ulang 3 kali), tudung layar, pemeriksaan posisi kamera otomatis, dan studi validasi 600 balita.

  • Paket manual Rp4–7 juta tetap dipilih karena murah

    Severity 12/25

    Mitigation: Hitung biaya total (waktu petugas, akurasi, lisensi 3 tahun); peragaan langsung; paket hibah lewat yayasan.

  • Kebocoran atau penyalahgunaan data anak

    Severity 10/25

    Mitigation: Enkripsi di perangkat dan saat kirim, akses per peran, persetujuan orang tua, audit keamanan tahunan.

  • Tablet dan modul sensor impor: kurs dan waktu tunggu 6 minggu

    Severity 9/25

    Mitigation: Dua pemasok berkomitmen; stok penyangga 60 unit; negosiasi pemasok tablet lokal ber-TKDN.

Supporting documents

Dokumen yang dipilih tim untuk dibagikan di Hub.

Interested in PosyanduScan?

Tim PosyanduScan membuka diri untuk pendanaan ekuitas / convertible note, pilot pengadaan dengan dinas kesehatan, distribusi alat kesehatan.

More listings